Tren Penelitian Dakwah Digital dalam Jurnal Akademik Indonesia: Peluang dan Tantangan

Dalam satu dekade terakhir, dakwah digital menjadi topik yang semakin sering diangkat dalam berbagai jurnal akademik di Indonesia. Perubahan gaya hidup masyarakat yang kini sangat bergantung pada teknologi dan media sosial mendorong para akademisi untuk meneliti transformasi cara berdakwah di era digital. Tidak hanya melihat dari sisi teologis, banyak jurnal juga membahas dakwah digital dari aspek komunikasi, sosiologi, psikologi, hingga literasi media. Artikel ini akan mengulas tren-tren utama penelitian tersebut, serta peluang dan tantangan yang menyertainya.

Pertama, terlihat adanya peningkatan signifikan dalam kuantitas publikasi yang membahas dakwah digital. Banyak jurnal yang berasal dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Walisongo Semarang, dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, yang secara aktif mempublikasikan studi tentang penggunaan media sosial dalam dakwah. Penelitian-penelitian ini sebagian besar bersifat kualitatif, menggunakan pendekatan studi kasus, etnografi virtual, atau analisis isi terhadap konten dakwah di platform seperti YouTube, TikTok, dan Instagram.

Dalam konteks peluang, dakwah digital menawarkan jangkauan yang sangat luas dan efisien. Banyak jurnal mencatat bahwa media sosial dapat menjangkau generasi muda yang secara umum lebih jarang hadir di pengajian-pengajian konvensional. Misalnya, penelitian yang dimuat dalam Jurnal Komunikasi Islam menyebutkan bahwa konten dakwah yang dikemas secara menarik dan singkat di TikTok dapat lebih mudah diserap oleh remaja, dibandingkan dengan ceramah panjang dalam format tradisional.

Selain itu, dakwah digital juga membuka peluang kolaborasi antarpendakwah lintas daerah bahkan lintas negara. Penelitian dari Jurnal Dakwah dan Komunikasi menunjukkan bahwa komunitas dakwah digital dapat saling mendukung, berbagi konten, hingga membangun solidaritas untuk menyebarkan nilai-nilai Islam secara damai dan inklusif. Ini tentu menjadi modal besar dalam membangun dakwah Islam yang moderat dan relevan dengan perkembangan zaman.

Namun demikian, berbagai jurnal juga mengangkat tantangan besar dalam implementasi dakwah digital. Salah satunya adalah kurangnya literasi digital di kalangan penyuluh agama atau pendakwah tradisional. Banyak di antara mereka yang belum terbiasa menggunakan teknologi, sehingga kualitas penyampaian dakwah di media sosial masih belum optimal. Penelitian di Jurnal Abdimas mengusulkan pelatihan literasi digital sebagai solusi agar pendakwah lebih siap beradaptasi dengan ruang digital.

Tantangan lainnya adalah potensi penyebaran konten yang tidak sesuai dengan prinsip Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Beberapa jurnal mencatat bahwa ada segelintir akun dakwah yang justru menyebarkan ujaran kebencian, intoleransi, atau bahkan radikalisme. Ini menjadi peringatan bahwa dakwah digital bukan hanya soal teknis penyampaian, tetapi juga soal kontrol nilai dan pesan yang dibawa. Oleh karena itu, peneliti mendorong adanya kurasi konten dakwah dan penguatan regulasi etika digital bagi para dai di media sosial.

Secara keseluruhan, tren penelitian dakwah digital di jurnal akademik Indonesia menunjukkan bahwa topik ini akan terus relevan dalam beberapa tahun ke depan. Perkembangan teknologi yang pesat menuntut pendekatan dakwah yang lebih inovatif dan inklusif. Dengan dukungan riset yang kuat, diharapkan dakwah digital tidak hanya menjadi respons terhadap zaman, tetapi juga menjadi jalan pembaruan metode penyampaian Islam yang lebih segar, damai, dan membumi di tengah tantangan era informasi.

Post a Comment for "Tren Penelitian Dakwah Digital dalam Jurnal Akademik Indonesia: Peluang dan Tantangan"