Konflik adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan berumah tangga. Perbedaan latar belakang, cara berpikir, keinginan, bahkan perbedaan kecil dalam keseharian bisa memunculkan perselisihan. Dalam Islam, keberadaan konflik tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus dihapuskan sama sekali, melainkan dikelola agar tetap berada dalam koridor syariat dan tidak merusak tujuan pernikahan.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَمِنْ ءَايَـٰتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ وَرَحْمَةً
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu kasih sayang dan rahmat." (QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan pernikahan adalah sakinah, mawaddah, dan rahmah. Konflik yang tidak dimanajemen dengan baik akan merusak tiga tujuan itu.
Dalam Islam, rumah tangga bukan sekadar hubungan sosial, melainkan ibadah. Suami dan istri dituntut untuk saling bersabar, mengendalikan emosi, dan berusaha mencari solusi. Nabi ﷺ bersabda:
لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
"Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah (istrinya). Jika dia tidak menyukai salah satu akhlaknya, maka hendaknya dia ridha dengan akhlak yang lain darinya." (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa perbedaan sifat adalah keniscayaan. Yang penting adalah bagaimana pasangan mampu menimbang kelebihan dan kekurangan dengan bijak.
Prinsip-Prinsip Islam dalam Manajemen Konflik Rumah Tangga
a. Musyawarah (Syura’)
Allah memuji orang-orang yang selalu bermusyawarah:
"…dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka…" (QS. Asy-Syura: 38).
Dalam rumah tangga, setiap masalah sebaiknya diselesaikan dengan duduk bersama, bukan dengan saling menyalahkan.
b. Kesabaran dan Menahan Amarah
Allah memuji hamba-Nya yang mampu menahan amarah:
"…dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain…" (QS. Ali Imran: 134).
Dalam rumah tangga, emosi yang meledak tanpa kendali hanya akan memperburuk konflik.
c. Saling Memaafkan
Rasulullah ﷺ menekankan bahwa memaafkan pasangan adalah bentuk kebaikan yang besar. Saling memaafkan menutup pintu setan yang suka meniupkan rasa benci dalam hati.
d. Adil dan Proporsional
Suami sebagai qawwam (pemimpin rumah tangga) dituntut adil dalam menyelesaikan masalah. Islam menolak sikap otoriter yang menutup ruang komunikasi.
4. Dampak Jika Konflik Tidak Dimanajemen
- Hilangnya mawaddah dan rahmah → rumah terasa dingin, tanpa kasih sayang.
- Munculnya kedzaliman → salah satu pihak tertekan, bahkan bisa sampai pada KDRT.
- Anak menjadi korban → pertengkaran orang tua berdampak langsung pada psikologis anak.
- Perceraian tanpa maslahat → jika konflik tidak terkelola, jalan terakhir bisa jadi perceraian, padahal itu adalah hal halal yang paling dibenci Allah (HR. Abu Dawud).
5. Manajemen Konflik sebagai Cermin Ketakwaan
- Mengelola konflik bukan hanya soal psikologi, tapi juga cermin ketakwaan kepada Allah.
- Suami yang sabar, menahan emosi, dan bijak → dicatat sebagai amal saleh.
- Istri yang taat, lembut, dan lapang dada → mendapatkan pahala besar.
- Setiap konflik yang dihadapi dengan iman akan menjadi ladang pahala dan memperkokoh ikatan rumah tangga.
6. Strategi Islami dalam Memanajemen Konflik
- Bicara dengan lemah lembut (qaulan layyinan) – jangan dengan suara keras.
- Tunda keputusan saat emosi – Nabi ﷺ menasihati agar orang marah segera berwudhu dan mengubah posisi.
- Cari pihak ketiga jika buntu – Al-Qur’an memerintahkan menghadirkan hakam (penengah) dari kedua belah pihak (QS. An-Nisa: 35).
- Perkuat ibadah bersama – salat berjamaah, doa bersama, dan dzikir akan melembutkan hati.
Kesimpulan
Dalam perspektif Islam, memanajemen konflik rumah tangga adalah bagian dari ibadah. Konflik tidak harus menjadi jalan menuju perpisahan, melainkan kesempatan untuk meningkatkan sabar, kasih sayang, dan komunikasi. Dengan manajemen konflik yang baik, rumah tangga akan lebih dekat dengan cita-cita sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Post a Comment for "Pentingnya Memanajemen Konflik dalam Berumah Tangga (Perspektif Agama)"