Dalam beberapa tahun terakhir, dakwah mengalami transformasi besar seiring kemajuan teknologi informasi dan perubahan sosial masyarakat. Perubahan ini tercermin jelas dalam konten-konten ilmiah yang dipublikasikan oleh jurnal-jurnal dakwah di Indonesia. Artikel-artikel tersebut tidak lagi hanya membahas aspek teologis dan normatif, melainkan mulai mengadopsi pendekatan komunikasi, teknologi, dan sosial budaya sebagai instrumen penting dalam menyampaikan pesan keagamaan. Analisis isi terhadap jurnal dakwah menunjukkan arah baru dalam dunia dakwah yang lebih inklusif, adaptif, dan relevan dengan zaman.
Pendekatan
komunikasi menjadi salah satu tema dominan dalam jurnal-jurnal dakwah. Banyak
penulis mengulas bagaimana efektivitas pesan dakwah sangat bergantung pada
strategi komunikasi yang digunakan oleh pendakwah. Misalnya, dalam Jurnal
Komunikasi Islam, ditemukan bahwa pemilihan media, gaya bahasa, hingga
kemampuan memahami audiens menjadi kunci keberhasilan dakwah. Dakwah yang
komunikatif dan dialogis terbukti lebih diterima oleh masyarakat, terutama
generasi muda yang terbiasa dengan pola komunikasi dua arah di media sosial.
Oleh karena itu, pendekatan komunikasi dalam jurnal dakwah sering kali
disandingkan dengan teori komunikasi modern seperti komunikasi persuasif,
komunikasi interpersonal, hingga komunikasi massa.
Selain
komunikasi, aspek teknologi menjadi sorotan utama dalam konten jurnal dakwah
masa kini. Era digital menuntut pendakwah untuk tidak hanya fasih dalam materi
keagamaan, tetapi juga melek terhadap penggunaan teknologi. Beberapa jurnal
seperti Jurnal Dakwah Digital dari IAIS Sambas dan Jurnal Ilmu Dakwah
dari UIN Bandung mengangkat tema pemanfaatan media sosial, aplikasi dakwah,
hingga produksi konten multimedia sebagai bagian dari strategi dakwah digital.
Dalam kajian ini, YouTube, TikTok, Instagram, dan podcast dilihat bukan sekadar
hiburan, melainkan platform yang efektif untuk membangun komunitas dakwah yang
luas dan dinamis. Analisis isi jurnal menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah
digital juga sangat dipengaruhi oleh kualitas produksi konten dan konsistensi
komunikasi.
Sementara
itu, pendekatan sosial budaya memberikan dimensi kontekstual dalam pelaksanaan
dakwah. Artikel-artikel dalam berbagai jurnal mencerminkan pentingnya memahami
karakteristik masyarakat sasaran dakwah. Dalam jurnal-jurnal seperti Jurnal
Al-Balagh dan Jurnal Dakwah dan Komunikasi, sering ditemukan
pembahasan tentang bagaimana nilai-nilai budaya lokal bisa diintegrasikan ke
dalam pesan dakwah. Hal ini penting untuk menghindari resistensi sosial dan
menjadikan dakwah sebagai bagian dari proses pemberdayaan masyarakat. Pendakwah
yang mampu menyampaikan pesan Islam dalam bingkai kultural akan lebih mudah
diterima dan berdampak positif secara sosial.
Analisis
isi terhadap jurnal-jurnal dakwah juga mengungkapkan bahwa
pendekatan-pendekatan ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi.
Komunikasi yang baik memerlukan pemahaman teknologi, dan pemanfaatan teknologi
perlu disesuaikan dengan latar budaya masyarakat. Sinergi ketiga pendekatan ini
menjadikan dakwah lebih fleksibel dan adaptif terhadap berbagai situasi dan
audiens. Para akademisi melalui tulisan-tulisannya mencoba menggabungkan teori
dan praktik dakwah dalam konteks kekinian, sehingga jurnal dakwah tidak hanya
bersifat deskriptif, tapi juga aplikatif.
Dari
analisis ini dapat disimpulkan bahwa jurnal-jurnal dakwah di Indonesia telah
menunjukkan perkembangan signifikan dalam hal pendekatan dan cakupan kajian.
Dengan menggabungkan elemen komunikasi, teknologi, dan sosial budaya,
jurnal-jurnal ini mampu menawarkan perspektif baru bagi para praktisi dakwah.
Di tengah tantangan zaman, perpaduan ketiga pendekatan ini menjadi kunci
penting dalam membangun dakwah yang relevan, menyentuh hati, dan memberdayakan
masyarakat secara utuh.
Post a Comment for "Analisis Isi Jurnal Dakwah: Pendekatan Komunikasi, Teknologi, dan Sosial Budaya"